Minggu, 13 September 2015

NILAI SOSIAL

Contoh kasus
Seorang anak muda bernama akmal sedang duduk pusing di samping rumah ibu fatma karena kalah togel, tiba-tiba ibu fatma keluar dari rumahnya dengan bergelimangan emas dan berlian. Niat hati ibu fatma ingin memamerkan emasnya terhadap tetangganya, Akmal yang pusing dan tak karuang itupun melihat ibu fatma langsung melotot dengan satu fokus ke arah perhiasan yang digunakan ibu Fatma, tanpa lama-lama berfikir, si akmal langsung merampok perhiasan ibu  Fatma. Ibu fatma yang kehilangan pun tak berkutik dan kaget, karena niat mau dipamerkan perhiasannya ke tetangganya tapi malah kehilangan.

I.   NILAI SOSIAL
A.     PENGERTIAN NILAI

Anda tentu saja sudah sering mendengar kata Nilai dalam masyarakat. Nilai sebenarnya sering kita lakukan, misalnya ketika kita membantu orang lain itu berarti kita sedang menerapkan nilai masyarakat. Namun, apa sebenarnya nilai sosial itu ?
Nilai didefinisikan sebagai kadar, mutu atau sifat yang penting dan berguna bagi kemanusiaan. Sementara itu, nilai budaya dan  nilai sosial didefinisikan sebagi konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam sosiolog nilai didefinisikan sebagi konsepsi (pemikiran) abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Contohnya, orang menganggap menolong bernilai baik sedangkan mencuri bernilai buruk. Dengan demikian, perbuatan saling menolong merupakan sesuatu yang bernilai dalam kehidupan masyarakat. Yang bernilai dalam kehidupan masyarakat inilah yang disebut nilaisosial. Bagaimana menurut para ahli tentang pengertian nilai sosial ini ?
1.      Woods mengatakan bahwa nilai sosial merupakan petunjuk umum yang telah berlangsung lama, mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.
2.      B. Simanjuntak merumuskan nilai sebagai ide-ide masyarakat tentang sesuatu yang baik.
3.      Robert M.Z Lawang mengatakanbahwa nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, berharga, dan mempengaruhi prilaku sosial orang-orang yang memiliki nilai tersebut.
4.      Anthony Giddens mendefinisikan nilai adalah gagasan –gagasan yang dimiliki oleh seseorag atau kelompok tentang apa ynag dikehendaki, apa yang layak dan apa yang baik atau buruk.
5.      Horton & Hunt mendefinisikan nilai adalah gagasan tentang apakah suatu tindakan itu penting atau tidak penting.
6.      Richard T. Schaefer dan Robert P. Lamm mendefinisikan nilai sebagai gagasan kolektif (bersama-sama) tentang apa yang dianggap baik, penting, diinginkan, dan dianggap layak sekaligus tentang yang dianggap tidak baik, tidak penting, tak diinginkan dan tidak layak dalam sebuah kebudayaan. Nilai menunjuk padahal yang penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu baik sebagai anggota masyarakat.
Penilaian manusia terhadap suatu hal sangat di pengaruhi oleh tingkat pemahamannya akan hal tersebut. Tingkat pemahaman itu umumnya menyangkut berbagai aspek kehidupan. Misalnya;
1)      Aspek politik
aspek politik menyangkut peranan ideology yang dianutnya.
2)      Aspek sosial
Menyangkut status dan peranannya di masyarakat. Contohnya, masyarakat yang maju akan berbeda dengan masyarakat yang masih sederhana

3)      Aspek ekonomi
Kebutuhan hidup masyarakat sederhana lebih sederhana dan kebutuhan masyarakat maju cenderung kompleks.
     Di dalam kenyataan sehari-hari, sangat sulit untuk membedakan nilai yang dianut seseorang dengan nilai yang dianut sekelompok masyarakat. Hal ini terjadi karena nilai suatu budaya sangat relatif.
B.     CIRI-CIRI NILAI SOSIAL
Beberapa ciri-ciri nilai sosial dapat dikemukakan sebagai berikut ;
1.      Merupakan konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi antar warga masyarakat
2.      Disebarkan diantara warga masyarakat (bukan bawaan individu sejak lahir)
3.      Terbentuk melalui sosialisasi (proses belajar)
4.      Merupakan bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
5.      Dapat mempengaruhi perkembangan diri seseorang.
6.      Memilki pengaruh yang berbeda antar warga masyrakat
7.      Cenderung berkaitan satu sama lain dan membentuk system nilai

Nilai berfungsi sebagai landasan, alasan atau motivasi dalam segala tingkah laku dan perbuatan seseorang. Nilai mencerminkan kualitas pilihan tindakan dan pandangan hidup sesorang atau masyarakat. Sebuah interaksi sosial memerlukan nilai, baik itu dalam mendapatkan hak maupun menjalankan kewajiban. Dengan demikian, nilai-nilai mengandung standar normative dalam perilaku individu maupun masyarakat.

C.    FUNGSI NILAI SOSIAL
Menurut Drs. Suprapto, fungsi nilai sosial adalah sebagai berikut ;
1.      Dapat menyumbangkan seperangkat alat untuk menetapkan “harga” sosial dari suatu kelompok.
2.      Dapat mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan bertingkah laku.
3.      Sebagai penentu terakhir manudalam memenuhi peranan-peranan sosial. Nilai sosial dapat memotivasi seseorang untuk mewujudkan harapan sesuai dengan peranananya (sebagai individu dan anggota masyarakat).
4.      Sebagai alat solidaritas dikalangan anggota kelompok (masyarakat). Dengan nilai tertentu, anggota kelompok akan merasa sebagai suatu kesatuan.
5.      Sebagai alat pengawas/control perilaku manusia dengan daya tekan dan daya mengikat tertentu agar orang mau berprilaku sesuai dengan yang diingikan system nilai.

D.    MACAM-MACAM NILAI SOSIAL
Menurut Prof. Dr Notonegoro membagi nilai menjadi tiga yaitu :
1.      Nilai material
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsure fisik manusia. Misalnya, makanan, air, dan pakaian. Nilai material relatif lebih mudah diukur dengan lat ukur luas (m2), ukur isi (liter), ukur panjang (meter) dsb.
2.      Nilai vital
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas. Misalnya, buku dan alat tulis bagi pelajar dan mahasiswa, dan kalkulator bagi auditor.
3.      Nilai kerohanian
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi batin (rohani) manusia. Nilai kerohaniaan antara lain sebagai berikut :
a)        Nilai kebenaran yang bersumber pada unsur akal manuasia.
b)        Nilai keindahan yang bersumber pada unsur rasa indah (nilai estetis). Contohnya karya seni, baik seni musik, lukis, maupun pahat.
c)        Nilai kebaikan atau nilali moral yang bersumber pada unsure kodrat manusia seperti kehendak dan kemauan.
d)       Nilai religius merupakan nilai ketuhanan yang tertinggi dan mutlak. Nilai ini bersumber pada kepercayaan dan keyakinan manusia.

Berdasarkan cirinya, nilai sosial dapat dibedakan menjadi 2 macam, yakni nilai dominan dan nilai yang mendarah daging.
·           Nilai dominan adalah nilai yang dianggap lebih penting dibandingka nilai lainnya. Ukuran dominan atau tidaklnya suatu nilai didasrkan pada hal-hal berikut.
a)    Banyaknya orang yang menfganut nilai tersebut. Contoh : sebagian besar masyarakat menghendaki perubahan kearah perbaikan (reformasi) di segala bidang kehidupan, seperti bidang politik, hokum, ekonomi, dan sosial.
b)   Berapa lama nilai itu dianut atau digunakan.
Contoh :
-     Sejak dahulu hingga sekarang, tradisi Sekaten di Surakarta dan di Yogyakarta dalam rangka memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW selalu dilaksanakan dialing-alung keratin dan di samping mesjid besar.
-       Keadilan selalu diperjuangkan oleh seluruh masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan hingga saat ini.
c)    Tinggi rendahnya usahan seseorang untuk memperlakukan nilai tersebut. Contoh :
Ø  menunaikan ibadah haji merupaka kewajiban bagi umat islam. Oleh karena itu, umat islam selalu berusaha untuk dapat melakasanakannya.
Ø  Pulang mudik pada hari lebaran (idul fitri) maupun hari h\natal untuk sebagian orang merupakan suatu keharusan walaupun melalui perjuangan yang berat.
d)        Prestise/kebanggan orang-orang yang menggunakan nilai di masyarakat. Contoh :
Ø  Memilki mobil atau barang lain yang bermerek terkenal dapat memberikan kebangggan/prestise tersendiri
Ø  Gelar keserjanaan seperti S.Si , S.E.,S.H.,dsb. Dilihat sebagai lambang kesuksesan seseorang walaupun sebenarnya masih ada kesuksesan lain yang dapat dicapai tanpa gelar.
·         Nilai yang mendarah daging (internalizet value) adalah nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan sehingga ketika sesorang melakukannya kadang tifdak melalui proses berfikir atau pertimbangan lagi, melainkan secara tidak sadar. Biasanya nilai ini telah tersosialisasi sejak seorang masih kecil dan apabila ia tidak melakukannya ia akan merasa malu bahkan merasa bersalah. Contoh :
-       Seorang kepala keluarga yang belum mapu member nafkah pada keluarganya akan merasa sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab.
-       Prajurit yang tidak mampu mengalahkan musuhnya dalam suatu pertempuran akan merasa gagal.
-       Guru yang mekihat siswanya gagal dalam ujian kenaikan kelas akan merasa gagal dalam mendidiknya.


           Dari bagan di atas, kita ketahui bahwa nilai tidak hanya terkandung dalam sesuatu yang berwujud benda material saja atau yang bersifat konkret, tetapi juga terkandung dalam sesuatu yang merupakan aplikasi atau perwujudan dari nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tersebut.
E.     PERUBAHAN NILAI DALAM MASYARAKAT
           Pada umumnya nilai-nilai dalam masyarakat tidak mudah berubah. Namun, itu tidak berarti bahwa nilai-nilai dalam masyarakat tidak berubah. Perubahan nilai dapat dilihat dari tiga sudut pandang yaitu :
1)   Teori Fungsional-Struktural
      Dilihat dari sudut pandang teori fungsional-struktural, perubahan nilai-nilai dalam masyarakat terjadi karena nilai-nilai tersebut sudah tidak fungsional lg untuk menopang keberadaan masyarakat. Konkretnya, nilai-nilai tersebut sudah tidak bisa berfungsi sebagai sarana untuk :
a)    Mengarahkan masyarakat dalam berfikir dan bertingkah laku.
b)   Mendorong atau memotivasi warga masyarakat dalam menjalankan peranannya.
c)    Menumbuhkan solidaritas dikalangan anggota masyarakat dan
d)   Mengontrol perilaku organ masyarakat.
2)   Teori konflik
        Dilihat dari sudut pandang teori konflik, perubahan nilai-nilai dalam masyarakat terjadi manakala nilai tersebut dianggap tidak lagi sesuai dengan kepentingan/rasa keadilan kelompok-kelompok yang saling bersaing dalam masyarakat.
3)   Teori interaksi-simbolik
   Sedangkan menurut sudut pandang teori interaksi-simbolik perubahan nilai-nilai dalam masyarakat dimungkinkan karena berlangsungnya proses interaksi dalam masyarakat.
           Perubahan nilai dalam masyarakat bisa terjadi karena factor dari dalam dan luar. Yang dimaksud factor dari dalam seba-sebab perubahan nilai-nilai yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri. Factor dari dalam tersebut bisa berupa elit maupun pemuda. Kedua kelompok masyarakat itulah yang uumnya menjadi kekuatan pendorong terjadinya perubahan nilai dalam masyarakat (Lauer,2001). Sedangkan factor dari luar adalah sebab-sebab perubahan nilai-nilai yang berasal dari luar masyarakat yang bersangkutan. Factor dari luar itu terutama adalah adanya hubungan/interaksi dengan masyarakat lain yang berdampak pada terjadinya :
1)      Akulturasi
Proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsure-unsur darui suatu kebudayaan asing, sehingga unsur-unsur asing itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri, tampa menyebabkan hilangnya kebuadayaan itu.
2)      Asimilasi
Proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dan latar belakang kebudayaan yang berbeda setelah mereka bergaul dsecara intensiv, sehimgga sifat khas dan dari unsure-unsur kebudayaan masing-masing golongan tersebut berubah jmenjadi unsure-unsur kebudayaan campuran (Koenjaraningrat,2003).

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU

CONTOH KASUS
Fatriansyah adalah seorang anak berumur  10 tahun yang masih duduk dibangku SD kelas 4.  Disekolah, Gurunya sering menasehati harus peka terhadap apa yang terjadi disekitarnya .Ia termasuk anak beruntung karena dapat mengenyam pendidikan dibandingkan teman-temannya dikampungnya meskipun termasuk keluarga ekonomi rendah tetapi kepedulian orang tuanya yang begitu besar terhadap pendidikan, dan bagaimana pun caranya anaknya harus bersekolah, karena prinsip mereka hanya dengan anaknya bresekolah ia mampu mengubah nasib hidup keluarganya. Tempat tinggalnya merupakan permukiman kumuh yang dihuni oleh banyak anak jalanan. Ia terkadang miris melihat teman-teman sebayanya yang harus berada diperempatan jalan yang begitu banyak resiko yang seharusnya menikmati bangku sekolah, jangankan untuk biaya sekolah untuk biaya hidup pun mereka kurang mampu. Setiap malam teman-teman Yuansyah berkumpul digubuknya, ia dijadikan teman-temanya sebagai guru dan sumber informasi bagi mereka yang tidak sekolah. Inilah bentuk kepedulian yuansyah terhadap teman-temannya

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU
1.    Pengertian Sosiologi Secara Etimologis Dan Terminologi
Secara etimologis, Sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti ‘teman, kawan’, dan logos yang berasal dari kata yunani yang berarti ‘ilmu’. Sedangkan secara terminologi, sosiologi berarti ilmu tentang teman.Dalam arti yang lebih luas, sosiologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi manusia didalam masyarakat.
2.    Pengertian Sosiologi Menurut Ahli Eropa
A.  Max Weber
Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakanSosial
B.     Karl Marx
Memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yangmenganggap konflik antarkelas sosial menjadi intisariperubahan dan perkembangan masyarakat.
C.     Emile Durkheim
Memperkenalkan fakta sosial, yang berupa penelusuranfungsi berbagai elemen sosial sebagai peningkatansekaligus memelihara keteraturan sosial
3.    Pengertian Sosiologi Menurut Ahli Indonesia
1.        Hassan Shadily
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersamadalam masyarakat, menyelidiki ikatan-ikatan antaramanusia yang menguasai kehidupan dengan mencobamengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuknyahidup bersama serta perubahannya, perserikatanhidup, kepercayaan, dan keyakinan.
2.      Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajaristruktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahansosial.
3.      Mayor Polak
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yaitu hubungan antarmanusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik kelompok formal maupun kelompok material atau baik kelompok statis maupun kelompok dinamis.
4.    Sejarah Perkembangan Sosiologi Di Eropa Barat
Pada saat sosiologi masih dianggap sebagaiilmu yang bernaung di dalam filsafat,dan disebut dengan nama filsafat sosial, materiyang dibahas tidak dapat dikatakansebagai ilmu sosiologi seperti yang dikenalsekarang. Sebab, pada saat itu materi filsafatsosial masih mengandung unsur etika yangmembahas tentang bagaimana seharusnyamasyarakat itu (das solen), sedangkan sosiologiyang berkembang saat ini merupakanilmu yang membicarakan
bagaimana kenyataan yang adadalam masyarakat (das sein). Beberapailmuwan yang mengembangkanfilsafat sosial diantaranyaadalah Plato (429–347 SM) yangmembahasunsur-unsur sosiologitentang negara dan Aristoteles(384-322 SM) yang membahas unsur-unsur sosiologi dalam hubungannyadengan etika sosial, yaknibagaimana seharusnya tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan sesamamanusia ataupun dalam kehidupan sosialnya. Selain kedua ilmuwan itu,Thomas Hobbes, John Locke, dan Jean Jaques Rousseau juga ikut memberikan bentuk pada ilmu yang kemudian disebut sosiologi, dengan pemikiran merekatentang kontak sosial. Sampai awal tahun 1800-an, konsep pemikiran sosiologibelum dianggap sebagai ilmu pengetahuan.Baru setelah Auguste Comte (1798-1857) menciptakan istilah sosiologi,pada tahun 1839 terhadap keseluruhan pengetahuan manusia mengenaikehidupan bermasyarakat, maka lahirlah sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan.Inilahyang disebut dengan tahap pemikiran awal sosiologiilmiah.Sosiologi kemudian semakin berkembang denganlahirnya konsep-konsep baru.Satu hal yang palingpenting dalam sejarah perkembangan sosiologi adalahmunculnya teori determinisme ekonomi yangdikembangkan oleh Friedrich Engels dan Karl Marx.Teori ini menyatakan, bahwa faktor-faktor ekonomimengontrol semua pola dan institusi dimasyarakat.Teori itu banyak dianggap sebagai dasar terbentuknyakomunisme. Kemudian,Herbert Spencer mengembangkansistematika penelitian masyarakat dan menyimpulkan,bahwa perkembangan masyarakatmanusia adalah suatu proses evolusi yang bertingkattingkatdari bentuk yang rendah ke bentuk yang lebihtinggi, seperti evolusi biologis.Sosiologi berkembang dengan pesat pada abad ke-20, terutama di Prancis,Jerman, dan Amerika Serikat. Arah perkembangan di ketiga negara tersebutberbeda-beda karena perkembangan sosiologi di setiap negara dilatarbelakangioleh kondisi sosial dan sejarah setempat. DiPrancis, Revolusi Prancis dan akibatnyamerupakan latar belakang historis bagiusaha-usaha Auguste Comte untuk menjelaskanseluruh sejarah mengenai perubahan sosial dan kemajuan,serta gagasan untuk mengorganisasikankembali masyarakat. Di Inggris, Revolusi industrimerusak hubungan sosial tradisional dan menciptakanperpecahan baru dalam struktur sosial. Hal ini merangsangpara ahli teori sosial, seperti Herbert Spencerdan Karl Marx untuk mengembangkan penjelasanmengenai masyarakat dan perubahan sosial.Sosiologi pada zaman Comte dan HerbertSpencer masih dipengaruhi oleh aliran filsafat danpsikologi. Baru ketika Emile Durkheim untuk pertamakalinya menggunakan metode riset ilmiah dalammengkaji informasi demografi dari berbagai negara,dan mempelajari hubungan antara angka bunuh diri yang ada di negara-negaraitu dengan faktor agama dan status perkawinan, maka sosiologi benar-benarlepas dari pengaruh filsafat. Kajian sosiologi kemudian dilanjutkan oleh MaxWeber yang menelaah tindakan manusia dan interaksi sosial.
Perkembangan sosiologi melalui babak paling dinamis, ketika munculpemikir-pemikir dari institut penelitian sosial Universitas Frankfurt Jerman yanglebih dikenal dengan Mazhab Frankfurt.Tiga pemikir utama tersebut adalahMax Horkheimer, Theodor. W. Adorno, Herbert Marcuse. Melalui teori kritikyang dikembangkan, Mazhab Frankfurt mencoba menghubungkan pengetahuandengan praksis kehidupan masyarakat. Lebih rinci, upaya menghubungkanpengetahuan dan praksis diteruskan oleh Jorgen Habermas yang mendasarkanpada paradigma komunikasi melalui media massa.
Selama pertengahan tahun 1900-an, perkembangan sosiologi memasukitahap modern.Ciri utama sosiologi modern adalah terjadinya spesialisasi terusmeneruspada bidang ilmu ini. Para sosiolog berpindah dari mempelajari kondisi-kondisisosial secara menyeluruh menuju pengkajian kelompok-kelompok khususatau tipe-tipe komunitas dalam suatu masyarakat, misalnya para pengelola bisnis,para pembuat rumah, geng-geng di jalanan, perubahan gaya hidup, kondisisosial, perkembangan budaya, pergerakan pemuda, pergerakan kaum wanita,tingkah laku sosial, dan kelompok-kelompok sosial.Para ahli sosiologi mengembangkan lebih jauh metode riset ilmiah,penerapan metode eksperimen terkontrol, dan menggunakan komputer untukmeningkatkan efisiensi dalam menghitung hasil survei.
5.    Sejarah Perkembangan Sosiologi Di Indonesia
Sejarah perkembangan pemikiran sosiologi di Indonesia dapat dilihat daripemikiran para pujangga dan pemimpin Indonesia di masa lalu.Salah satunyaadalah Wulang Reh karya Sri Paduka Mangkunegoro IV dari Surakarta yangmengajarkan tata hubungan antara anggota masyarakat Jawa yang berasaldari golongan yang berbeda-beda.Tokoh lainnya, Ki Hajar Dewantara, jugamenyumbangkan konsep-konsep mengenai kepemimpinan dan kekeluargaandi Indonesia yang dipraktikkan dalam organisasi pendidikan Taman Siswa.Keduanya membuktikan bahwa unsur-unsur sosiologi sudah ada, meskipun tidakmurni sosiologi.Persinggungan masyarakat Indonesia dengan dunia barat, terjadi melaluizaman penjajahan Belanda. Pada zaman ini, banyak karya dari sarjana Belandayang mengambil masyarakat Indonesia sebagai pusat kajiannya, misalnya SnouckHurgronje, van Vollenhoven, dan Ter Haar yang menulis tentang keadaan sosialdi Indonesia saat itu, walaupun demi kepentingan penjajahan.
Sekolah TinggiHukum (Rechtchogeschool) di Jakarta pernah menjadi satu-satunya lembagaperguruan tinggi yang mengajarkan sosiologi di Indonesia sebelum akhirnyadihentikan pada tahun 1934-1935.Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Prof. Mr. SoenarioKolopaking pertama kali memberikan kuliah sosiologi pada tahun 1948 diAkademi Ilmu Politik Yogyakarta(sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosialdan Politik Universitas Gadjah Mada).Beliau memberikan kuliah dalam bahasaIndonesia, hal itu merupakan sesuatuyang baru karena sebelumnya kuliah-kuliahdiberikan dalam bahasa Belanda.Mulai tahun 1950, semakin banyakmasyarakat Indonesia yang mempelajarisosiologi secara khusus sebagai ilmupengetahuan sehingga tidak hanya menjadikansosiologi semakin berkembangdi Indonesia, tetapi sekaligus membawaperubahan dalam sosiologi di Indonesia.Buku-buku sosiologi karya orang Indonesia mulai bermunculan. Antaralain, Mr. Djody Gondokusumo menulis Sosiologi Indonesia (1946), Bardosono(1950) menerbitkan diktat sosiologi, dan Hassan Shadily, M.A. menyusun bukuberjudul Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia yang memuat bahan-bahanpelajaran sosiologi modern. Kemudian, Major Polak, seorang warga negaraIndonesia bekas Pangreh Praja Belanda yang berkesempatan mempelajarisosiologi di Universitas Leiden di Belanda menerbitkan buku berjudul SosiologiSuatu Pengantar Ringkas, dan Pengantar Sosiologi Pengetahuan Hukum danPolitik (1967). Sebelumnya, muncul karya-karya Selo Soemardjan, di antaranyaSocial Change in Yogyakarta (1962) yang sebenarnya adalah disertasi Selo Soemardjan saat memperoleh gelar doktor dari Cornell University. Isinya tentangperubahan-perubahan sosial di Yogyakarta sebagai akibat revolusi sosial politikpada waktu pusat pemerintahan di Yogyakarta. Selanjutnya, Selo Soemardjanbekerja sama dengan Soelaeman Soemardi menulis buku berjudul SetangkaiBunga Sosiologi (1964).Saat ini semakin banyak sumber belajar sosiologi, bahkan telah ada sejumlahFakultas Ilmu Sosial dan Politik yang memiliki jurusan sosiologi, sepertiUniversitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga,Universitas Diponegoro, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas SebelasMaret, Universitas Hassanudin, dan Universitas Andalas. Dari jurusan sosiologiitu, diharapkan sumbangan dan dorongan lebih besar untuk mempercepat danmemperluas perkembangan Sosiologi di Indonesia untuk kepentingan masyarakat,karena sosiologi sangat diperlukan apabilaseseorang ingin mengetahuiapa yang sebenarnya terjadi di masyarakat, yang selanjutnya dapat dipakaiuntuk membuat kebijakan yang tepat bagi perkembangan masyarakat.
6.    Ruang Lingkup Sosiologi
Ruang lingkup sosiologi mencakup pengetahuan dasar pengkajian kemasyarakatan yang meliputi:
1.    Kedudukan dan peran sosial individu dalam keluarga, kelompok sosial,dan masyarakat
2.    Nilai-nilai dan norma sosial yang mendasari atau memengaruhi sikap dan perilaku anggota masyarakat dalm melakukan hubungan sosial.
3.    Masyarakat dan kebudayaan daerah sebagai submaasyarakat serta kebudayaan nasional indonesia
4.    Perubahan sosial budaya yang terus menerus berlangsung yang disebabkan oleh faktor-faktor internal maupun eksternal.
5.    Masalah-masalah sosial budaya yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
7.    Karakteristik Sosiologi Sebagai Ilmu
Menurut Harry M. Johnson, yang dikutip oleh Soerjono Soekanto, sosiologisebagai ilmu mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut.
  1. Empiris, yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehatyang hasilnya tidak bersifat spekulasi (menduga-duga).
  2. Teoritis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasilobservasi yang konkret di lapangan, dan abstraksi tersebutmerupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secaralogis dan bertujuan menjalankan hubungan sebab akibatsehingga menjadi teori.
  3. Komulatif, yaitu disusun atas dasar teori-teori yang sudahada, kemudian diperbaiki, diperluas sehingga memperkuatteori-teori yang lama.
  4. Nonetis, yaitu pembahasan suatu masalah tidakmempersoalkan baik atau buruk masalah tersebut, tetapilebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut secaramendalam.
8.    Hakikat Sosiologi
Hakikat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan sebagai berikut:
  1. Sosiologi adalah ilmu sosial karena yang dipelajari adalahgejala-gejala kemasyarakatan.
  2. Sosiologi termasuk disiplin ilmu normatif, bukan merupakandisiplin ilmu kategori yang membatasi diri pada kejadiansaat ini dan bukan apa yang terjadi atau seharusnya terjadi.
  3. Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan murni (pure science)dan ilmu pengetahuan terapan (applied science).
  4. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan abstrak dan bukanilmu pengetahuan konkret. Artinya yang menjadi perhatianadalah bentuk dan pola peristiwa dalam masyarakat secaramenyeluruh, bukan hanya peristiwa itu sendiri.
9.    Metode Dalam Sosiologi
a.    Metode Kualitatif
Metode kualitatif mengutamakan bahan yang sukar diukur dengan angka.Misalnya tingkat partisipasi warga terhadap kebersihan desa atau bagaimana persepsi hidup sehat kaum pemulung, dan lain-lain. Metode ini kemudian diperluas menjadi tiga metode yang lebih spesifik antara lain metode historis, komparatif, dancase study.
b.    Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif lebih menggunakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka. Oleh karenanya gejala-gejala yang diteliti dapat diukur dengan menggunakan skala, indeks, tabel, dan formula yang menggunakan perhitungan
matematika.
c.    Metode Induktif
Metode yang mempelajari suatu gejala khusus untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku umum dala lapangan yang lebih luas.
d.   Metode Deduktif
Metode yang menggunakan proses yang berkebalikan dengan metode induktif yaitu dimulai dari kaidah-kaidah  yang dianggap berlaku umum untuk kemudian di pelajari dalam keadaan yang bersifat khusus.
10.              Perspektif Dalam Sosiologi
Berikut ini beberapa perspektif dalam sosiologi :
1.    Perspektif Evolusionis
Perspektif ini merupakan perspektif teoretis yang paling awal dalam sosiologi.Penganutnya adalah Auguste Comte dan Herbert Spencer.Perspektif ini memberikan keterangan yang memuaskan tentang bagaimana masyarakat manusia tumbuh dan barkembang.Para sosiolog yang menggunakan perspektif ini mencari pola perubahan dan perkembangan yang muncul dalam masyarakat yang berbeda untuk mengetahui apakah ada urutan perubahan yang berlaku umum. Dalam perspektif ini secara umum dapat dikatakan bahwa perubahan manusia atau masyarakat itu selalu bergerak maju (secara linear), namun ada beberapa hal yang tidak ditinggalkan sama sekali dalam pola kehidupannya yang baru dan akan terus dibawa meskipun hanya kecil sampai pada perubahan yang paling baru.
2.    Perspektif Fungsionalis
Dalam perspektif ini, masyarakat dilihat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerja sama secara terorganisasi dan teratur, serta memiliki seperangkat aturan dan nilai yang dianut sebagian besar anggota masyarakat tersebut. Jadi, masyarakat dipandang sebagai suatu system yang stabil, selaras dan seimbang.Dengan demikian menurut pandangan perspektif ini, setiap kelompok atau lembaga melaksanakan tugas tertentu secara terus menerus, karena hal itu fungsional. Sehingga, pola perilaku timbul karena secara fungsional bermanfaat dan apabila kebutuhan itu berubah, pola itu akan hilang atau berubah.Beberapa sosiolog pendukung perspektif ini adalah Talcott Persons, Kingsley Davis, dan Robert K. Merton.Seorang antropolog yang juga sangat mendukung perspektif ini, bahkan dapat dikatakan sebagai pelopornya adalah Bronislaw Malinowsky (Polandia).
3.    Perspektif Interaksionisme
Perspektif ini cenderung menolak anggapan bahwa fakta sosial adalah sesuatu yang determinan terhadap fakta sosial yang lain. Bagi perspektif ini, orang sebagai makhluk hidup diyakini mempunyai perasaan dan pikiran.Dengan perasaan dan pikiran orang mempunyai kemampuan untuk memberi makna terhadap situasi yang ditemui, dan mampu bertingkah laku sesuai dengan interpretasinya sendiri.Perspektif ini, memusatkan perhatian pada interaksi antara individu dengan kelompok, terutama dengan menggunakan simbol-simbol, antara lain tanda, isyarat, dan kata-kata baik lisan maupun tulisan. Atau dengan kata lain perspektif ini meyakini bahwa orang dapat berkreasi, menggunakan, dan berkomunikasi melalui simbol-simbol. Tokoh-tokoh yang terkenal sebagai penganut perspektif ini adalah George Herbert Mead dan W.I. Thomas.
4.    Perspektif Konflik
Perspektif ini melihat masyarakat sebagai sesuatu yang selalu berubah, terutama sebagai akibat dari dinamika pemegang kekuasaan yang terus berusaha memelihara dan meningkatkan posisinya.Perspektif ini selalu beranggapan bahwa kelompok-kelompok tersebut mempunyai tujuan sendiri yang beragam dan tidak pernah terintegrasi. Dalam mencapai tujuannya, suatu kelompok seringkali harus mengorbankan kelompok lain. Karena itu konflik selalu muncul, dan kelompok yang tergolong kuat setiap saat selalu berusaha meningkatkan posisinya dan memelihara dominasinya.
11.          Cabang-Cabang Sosiologi
Sosiologi yang berkembang dalam masyarakat memiliki beberapa cabang yang disesuaikan dengan bidang keilmuannya. Berikut ini kita akan membahas beberapa cabang sosiologi.
  1. Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan adalah cabang sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.Masalah-masalah itu muncul sebagai akibat perubahan zaman, seperti perubahan masyarakat dari pertanian menuju masyarakat industri.Perubahan itu menuntut dibuatnya berbagai sarana pendidikan, seperti gedung sekolah, buku-buku pelajaran, dan fasilitas lainnya.hal itu mengingat pentingnya pendidikan dalam dunia industri.
  1. Sosiologi Agama
Sosiologi agama mempelajari hubungan antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan agama.Dalam sosiologi agama dipelajari beberapa materi yang meliputi perilaku manusia yang berhubungan dengan keyakinan yang dipeluknya, peranan agama sebagai pranata sosial, peranan agama dalam perubahan masyarakat, dan peranan agama sebagai agen pengendalian sosial.
  1. Sosiologi Hukum
Sosiologi hukum mempelajari kaitan antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan hukum. Materi yang dipelajari antara lain perilaku masyarakatdalam hubungannya dengan hukum yang berlaku, peranan hukum dalam masyarakat, dan lembaga-lembaga yang berkaitan dengan hukum yang ada dalam masyarakat.
  1. Sosiologi Keluarga
Sosiologi keluarga membahas kegiatan atau interaksi antara fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan keluarga. Hal yang dipelajari dalam sosiologi keluarga antara lain peranan keluarga dalam masyarakat, peranan keluarga dalam perubahan sosial, dan beberapa bentuk keluarga yang ada dalam masyarakat.
  1. Sosiologi Pedesaan
Cabang sosiologi ini mempelajari masyarakat pedesaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari dalam sosiologi pedesaan antara lain mata pencaharian hidup, pola hubungan, pola pemikiran, serta sikap dan sifat masyarakat pedesaan dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Sosiologi Perkotaan
Sosiologi perkotaan mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari antara lain mata pencaharian hidup, pola hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, dan pola pikir dalam menyikapi suatu permasalahan.
12.    Manfaat Sosiologi
Berikut ini disebutkan beberapa manfaat mempelajari sosiologi.
1. Dengan mempelajari sosiologi, kita akan dapat melihat dengan lebih jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun (dan terutama) sebagai anggota kelompok atau masyarakat.
2. Sosiologi membantu kita untuk mampu mengkaji tempat kita dalam masyarakat, serta dapat melihat 'dunia' atau 'budaya' lain yang belum kita ketahui sebelumnya.
3. Sosiologi membantu kita mendapatkan pengetahuan tentang berbagai bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat, baik antarindividu, antarkelompok, maupun antarindividu dan kelompok.