Minggu, 13 September 2015

NILAI SOSIAL

Contoh kasus
Seorang anak muda bernama akmal sedang duduk pusing di samping rumah ibu fatma karena kalah togel, tiba-tiba ibu fatma keluar dari rumahnya dengan bergelimangan emas dan berlian. Niat hati ibu fatma ingin memamerkan emasnya terhadap tetangganya, Akmal yang pusing dan tak karuang itupun melihat ibu fatma langsung melotot dengan satu fokus ke arah perhiasan yang digunakan ibu Fatma, tanpa lama-lama berfikir, si akmal langsung merampok perhiasan ibu  Fatma. Ibu fatma yang kehilangan pun tak berkutik dan kaget, karena niat mau dipamerkan perhiasannya ke tetangganya tapi malah kehilangan.

I.   NILAI SOSIAL
A.     PENGERTIAN NILAI

Anda tentu saja sudah sering mendengar kata Nilai dalam masyarakat. Nilai sebenarnya sering kita lakukan, misalnya ketika kita membantu orang lain itu berarti kita sedang menerapkan nilai masyarakat. Namun, apa sebenarnya nilai sosial itu ?
Nilai didefinisikan sebagai kadar, mutu atau sifat yang penting dan berguna bagi kemanusiaan. Sementara itu, nilai budaya dan  nilai sosial didefinisikan sebagi konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dalam sosiolog nilai didefinisikan sebagi konsepsi (pemikiran) abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Contohnya, orang menganggap menolong bernilai baik sedangkan mencuri bernilai buruk. Dengan demikian, perbuatan saling menolong merupakan sesuatu yang bernilai dalam kehidupan masyarakat. Yang bernilai dalam kehidupan masyarakat inilah yang disebut nilaisosial. Bagaimana menurut para ahli tentang pengertian nilai sosial ini ?
1.      Woods mengatakan bahwa nilai sosial merupakan petunjuk umum yang telah berlangsung lama, mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.
2.      B. Simanjuntak merumuskan nilai sebagai ide-ide masyarakat tentang sesuatu yang baik.
3.      Robert M.Z Lawang mengatakanbahwa nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, berharga, dan mempengaruhi prilaku sosial orang-orang yang memiliki nilai tersebut.
4.      Anthony Giddens mendefinisikan nilai adalah gagasan –gagasan yang dimiliki oleh seseorag atau kelompok tentang apa ynag dikehendaki, apa yang layak dan apa yang baik atau buruk.
5.      Horton & Hunt mendefinisikan nilai adalah gagasan tentang apakah suatu tindakan itu penting atau tidak penting.
6.      Richard T. Schaefer dan Robert P. Lamm mendefinisikan nilai sebagai gagasan kolektif (bersama-sama) tentang apa yang dianggap baik, penting, diinginkan, dan dianggap layak sekaligus tentang yang dianggap tidak baik, tidak penting, tak diinginkan dan tidak layak dalam sebuah kebudayaan. Nilai menunjuk padahal yang penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu baik sebagai anggota masyarakat.
Penilaian manusia terhadap suatu hal sangat di pengaruhi oleh tingkat pemahamannya akan hal tersebut. Tingkat pemahaman itu umumnya menyangkut berbagai aspek kehidupan. Misalnya;
1)      Aspek politik
aspek politik menyangkut peranan ideology yang dianutnya.
2)      Aspek sosial
Menyangkut status dan peranannya di masyarakat. Contohnya, masyarakat yang maju akan berbeda dengan masyarakat yang masih sederhana

3)      Aspek ekonomi
Kebutuhan hidup masyarakat sederhana lebih sederhana dan kebutuhan masyarakat maju cenderung kompleks.
     Di dalam kenyataan sehari-hari, sangat sulit untuk membedakan nilai yang dianut seseorang dengan nilai yang dianut sekelompok masyarakat. Hal ini terjadi karena nilai suatu budaya sangat relatif.
B.     CIRI-CIRI NILAI SOSIAL
Beberapa ciri-ciri nilai sosial dapat dikemukakan sebagai berikut ;
1.      Merupakan konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi antar warga masyarakat
2.      Disebarkan diantara warga masyarakat (bukan bawaan individu sejak lahir)
3.      Terbentuk melalui sosialisasi (proses belajar)
4.      Merupakan bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
5.      Dapat mempengaruhi perkembangan diri seseorang.
6.      Memilki pengaruh yang berbeda antar warga masyrakat
7.      Cenderung berkaitan satu sama lain dan membentuk system nilai

Nilai berfungsi sebagai landasan, alasan atau motivasi dalam segala tingkah laku dan perbuatan seseorang. Nilai mencerminkan kualitas pilihan tindakan dan pandangan hidup sesorang atau masyarakat. Sebuah interaksi sosial memerlukan nilai, baik itu dalam mendapatkan hak maupun menjalankan kewajiban. Dengan demikian, nilai-nilai mengandung standar normative dalam perilaku individu maupun masyarakat.

C.    FUNGSI NILAI SOSIAL
Menurut Drs. Suprapto, fungsi nilai sosial adalah sebagai berikut ;
1.      Dapat menyumbangkan seperangkat alat untuk menetapkan “harga” sosial dari suatu kelompok.
2.      Dapat mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan bertingkah laku.
3.      Sebagai penentu terakhir manudalam memenuhi peranan-peranan sosial. Nilai sosial dapat memotivasi seseorang untuk mewujudkan harapan sesuai dengan peranananya (sebagai individu dan anggota masyarakat).
4.      Sebagai alat solidaritas dikalangan anggota kelompok (masyarakat). Dengan nilai tertentu, anggota kelompok akan merasa sebagai suatu kesatuan.
5.      Sebagai alat pengawas/control perilaku manusia dengan daya tekan dan daya mengikat tertentu agar orang mau berprilaku sesuai dengan yang diingikan system nilai.

D.    MACAM-MACAM NILAI SOSIAL
Menurut Prof. Dr Notonegoro membagi nilai menjadi tiga yaitu :
1.      Nilai material
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsure fisik manusia. Misalnya, makanan, air, dan pakaian. Nilai material relatif lebih mudah diukur dengan lat ukur luas (m2), ukur isi (liter), ukur panjang (meter) dsb.
2.      Nilai vital
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas. Misalnya, buku dan alat tulis bagi pelajar dan mahasiswa, dan kalkulator bagi auditor.
3.      Nilai kerohanian
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi batin (rohani) manusia. Nilai kerohaniaan antara lain sebagai berikut :
a)        Nilai kebenaran yang bersumber pada unsur akal manuasia.
b)        Nilai keindahan yang bersumber pada unsur rasa indah (nilai estetis). Contohnya karya seni, baik seni musik, lukis, maupun pahat.
c)        Nilai kebaikan atau nilali moral yang bersumber pada unsure kodrat manusia seperti kehendak dan kemauan.
d)       Nilai religius merupakan nilai ketuhanan yang tertinggi dan mutlak. Nilai ini bersumber pada kepercayaan dan keyakinan manusia.

Berdasarkan cirinya, nilai sosial dapat dibedakan menjadi 2 macam, yakni nilai dominan dan nilai yang mendarah daging.
·           Nilai dominan adalah nilai yang dianggap lebih penting dibandingka nilai lainnya. Ukuran dominan atau tidaklnya suatu nilai didasrkan pada hal-hal berikut.
a)    Banyaknya orang yang menfganut nilai tersebut. Contoh : sebagian besar masyarakat menghendaki perubahan kearah perbaikan (reformasi) di segala bidang kehidupan, seperti bidang politik, hokum, ekonomi, dan sosial.
b)   Berapa lama nilai itu dianut atau digunakan.
Contoh :
-     Sejak dahulu hingga sekarang, tradisi Sekaten di Surakarta dan di Yogyakarta dalam rangka memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW selalu dilaksanakan dialing-alung keratin dan di samping mesjid besar.
-       Keadilan selalu diperjuangkan oleh seluruh masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan hingga saat ini.
c)    Tinggi rendahnya usahan seseorang untuk memperlakukan nilai tersebut. Contoh :
Ø  menunaikan ibadah haji merupaka kewajiban bagi umat islam. Oleh karena itu, umat islam selalu berusaha untuk dapat melakasanakannya.
Ø  Pulang mudik pada hari lebaran (idul fitri) maupun hari h\natal untuk sebagian orang merupakan suatu keharusan walaupun melalui perjuangan yang berat.
d)        Prestise/kebanggan orang-orang yang menggunakan nilai di masyarakat. Contoh :
Ø  Memilki mobil atau barang lain yang bermerek terkenal dapat memberikan kebangggan/prestise tersendiri
Ø  Gelar keserjanaan seperti S.Si , S.E.,S.H.,dsb. Dilihat sebagai lambang kesuksesan seseorang walaupun sebenarnya masih ada kesuksesan lain yang dapat dicapai tanpa gelar.
·         Nilai yang mendarah daging (internalizet value) adalah nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan sehingga ketika sesorang melakukannya kadang tifdak melalui proses berfikir atau pertimbangan lagi, melainkan secara tidak sadar. Biasanya nilai ini telah tersosialisasi sejak seorang masih kecil dan apabila ia tidak melakukannya ia akan merasa malu bahkan merasa bersalah. Contoh :
-       Seorang kepala keluarga yang belum mapu member nafkah pada keluarganya akan merasa sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab.
-       Prajurit yang tidak mampu mengalahkan musuhnya dalam suatu pertempuran akan merasa gagal.
-       Guru yang mekihat siswanya gagal dalam ujian kenaikan kelas akan merasa gagal dalam mendidiknya.


           Dari bagan di atas, kita ketahui bahwa nilai tidak hanya terkandung dalam sesuatu yang berwujud benda material saja atau yang bersifat konkret, tetapi juga terkandung dalam sesuatu yang merupakan aplikasi atau perwujudan dari nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tersebut.
E.     PERUBAHAN NILAI DALAM MASYARAKAT
           Pada umumnya nilai-nilai dalam masyarakat tidak mudah berubah. Namun, itu tidak berarti bahwa nilai-nilai dalam masyarakat tidak berubah. Perubahan nilai dapat dilihat dari tiga sudut pandang yaitu :
1)   Teori Fungsional-Struktural
      Dilihat dari sudut pandang teori fungsional-struktural, perubahan nilai-nilai dalam masyarakat terjadi karena nilai-nilai tersebut sudah tidak fungsional lg untuk menopang keberadaan masyarakat. Konkretnya, nilai-nilai tersebut sudah tidak bisa berfungsi sebagai sarana untuk :
a)    Mengarahkan masyarakat dalam berfikir dan bertingkah laku.
b)   Mendorong atau memotivasi warga masyarakat dalam menjalankan peranannya.
c)    Menumbuhkan solidaritas dikalangan anggota masyarakat dan
d)   Mengontrol perilaku organ masyarakat.
2)   Teori konflik
        Dilihat dari sudut pandang teori konflik, perubahan nilai-nilai dalam masyarakat terjadi manakala nilai tersebut dianggap tidak lagi sesuai dengan kepentingan/rasa keadilan kelompok-kelompok yang saling bersaing dalam masyarakat.
3)   Teori interaksi-simbolik
   Sedangkan menurut sudut pandang teori interaksi-simbolik perubahan nilai-nilai dalam masyarakat dimungkinkan karena berlangsungnya proses interaksi dalam masyarakat.
           Perubahan nilai dalam masyarakat bisa terjadi karena factor dari dalam dan luar. Yang dimaksud factor dari dalam seba-sebab perubahan nilai-nilai yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri. Factor dari dalam tersebut bisa berupa elit maupun pemuda. Kedua kelompok masyarakat itulah yang uumnya menjadi kekuatan pendorong terjadinya perubahan nilai dalam masyarakat (Lauer,2001). Sedangkan factor dari luar adalah sebab-sebab perubahan nilai-nilai yang berasal dari luar masyarakat yang bersangkutan. Factor dari luar itu terutama adalah adanya hubungan/interaksi dengan masyarakat lain yang berdampak pada terjadinya :
1)      Akulturasi
Proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsure-unsur darui suatu kebudayaan asing, sehingga unsur-unsur asing itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri, tampa menyebabkan hilangnya kebuadayaan itu.
2)      Asimilasi
Proses sosial yang terjadi pada berbagai golongan manusia dan latar belakang kebudayaan yang berbeda setelah mereka bergaul dsecara intensiv, sehimgga sifat khas dan dari unsure-unsur kebudayaan masing-masing golongan tersebut berubah jmenjadi unsure-unsur kebudayaan campuran (Koenjaraningrat,2003).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar